Showing posts with label Politik. Show all posts
Showing posts with label Politik. Show all posts

Tuesday, April 07, 2009

sinopsishina Undercover - Rahasia di Balik Kemajuan China

Bahasa : Indonesia
Ukuran : 1.3 Mb


Sinopsis Buku:
Dilarang Beredar di Cina!
Pemenang Lettre Ulysses Prize
Edisi Bajakannya Terjual 10 Juta Kopi

Karya unik ini untuk kali pertama diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Versi aslinya yang berbahasa Cina telah terjual lebih dari 250.000 eksemplar sebelum dilarang dan edisi bajakannya terjual hingga nyaris sepuluh juta kopi di Cina.

Belakangan, kedua penulisnya ditekan selama masa persidangan, dipaksa meninggalkan pekerjaan mereka, dan rumah mereka dilempari batu oleh segerombolan orang. Semuanya karena mereka berani membeberkan ‘rahasia’ yang ada dalam buku ini.

Chen Guidi lahir pada tahun 1943 di Anhui. Istrinya, Wu Chuntao, lahir pada tahun 1963 di provinsi Hunan di Cina. Mereka sama-sama berasal dari keluarga rakyat jelata. Chen dan Wu menjadi anggota dan penulis terkemuka dalam asosiasi sastra Hefei. Guidi menerima Lu xun Literature Achievement Award, salah satu hadiah sastra paling penting di Cina. Kedua penulis telah menerima berbagai penghargaan dari jurnal Contemporary Age atas reportase yang inovatif.

***

China Undercover seharusnya menjadi bacaan yang penting bagi siapa pun yang tertarik pada bagaimana sebenarnya kehidupan yang ada di Republik Rakyat Cina.
—Washington Post

Dituturkan dengan gaya berkisah yang memukau.
—Publishers Weekly


Download China Undercover


Thursday, December 25, 2008

Ebook Catatan Hitam Lima Presiden Indoenesia

Saturday, May 17, 2008

Barack Obama, the New Face of American Politics

Barack Obama's election to the U.S. Senate in 2004 is one of the most interesting and colorful political campaigns in recent history. His rousing keynote address at the Democratic National Convention that same year made his name a household word. The "Obama for Illinois" crusade offers important insights into American politics. The authors explore the role of money, political party, ethnicity, religion, and the issues facing our society today. Obama's straightforward policy recommendations, message of hope and inclusion, and charismatic style propelled him to the national spotlight. Obama has the potential to shape America and to reshape U.S. politics as he campaigns for the White House. Obama's state senate career and his decision to enter the U.S. Senate race are examined in this book. Despite a primary field of six competitors, Obama received more than half of the Democratic vote, defeating a multimillionaire and the state comptroller, a well-known figure in the Democratic Party. The general election imploded for the Republicans in the first few weeks of the campaign when it was revealed that their candidate was embroiled in a sex scandal. Alan Keyes, the ultraconservative, outspoken African American who had run for president twice and for the U.S. Senate from Maryland, was recruited to challenge Obama. But Obama, whose skill with the media and whose ability to raise funds was evident even in those early days of his career, easily won the race with 70 percent of the vote. The authors analyze Obama's ability to speak to the concerns of multiple constituencies by appealing to a coalition of voters that transcends race, class, and gender. At the start of his presidential run, Obama gives new meaning to the American dream.

Tuesday, May 13, 2008

Gerwani sebagai kumpulan pembunuh dan setan (fitnah dan fakta penghancuran organisasi perempuan terkemuka) by stanley

Melihat mangsanya datang, anggota PR dan Gerwani yang sudah diindoktrinasi dengan kebencian dan kedengkian berteriak-teriak histeris. Sambil menari-nari, mengelilingi para pahlawan revolusi itu, anggota-anggota Gerwani dan Pemuda Rakyat, BTI, SOBSI dan lain-lain menyanyikan lagu-lagu revolusioner ciptaan komponis-komponis Lekra, antara lain lagu-lagu Ganyang Kabir, Ganyang 3 Setan Kota ciptaan Soebroto K Atmodjo dan lagu pop yang sedang menjadi top hits pada waktu itu, Genjer-Genjer.

Untuk memanaskan suasana, banyak di antara anggota PR dan Gerwani itu bahkan menari tanpa busana. Itulah apa yang mereka namakan pesta harum bunga. Pesta harum bunga seperti ini memang sudah beberapa malam mereka lakukan dalam rangka mengakhiri masa latihan. Pada saat-saat itu batas-batas moral
dianggap tidak ada lagi. Hubungan seks secara liar di antara para anggota PR dan Gerwani memang sengaja dibiarkan oleh pimpinan latihan kemiliteran, untuk memberi semangat. Seorang dokter bersama dokter Ceropeboka telah memberikan suntikanyang diduga berisi obat perangsang. Selengkapnya

Monday, May 12, 2008

Kerja Upahan dan Kapitalisme oleh Karl Marx

Wednesday, April 23, 2008

Vince Flynn - Transfer of Power

On a busy Washington morning, the stately calm of the White House is shattered by a hail of gunfire. A group of terrorists has descended on the executive mansion and gained access by means of a violent slaughter of dozens of people. Through the quick actions of the Secret Service, the president is evacuated to his underground bunker, but not before nearly one hundred hostages are taken.

While politicians and military leaders argue over how to negotiate with the terrorists, one man is sent in to take control of the crisis. Mitch Rapp, the CIA’s top counterterrorism operative, determines that the president is not as safe as Washington’s power elite had thought. Moving stealthily among the corridors and secret passageways of the White House, Rapp makes a chilling discovery that could rock Washington to its core: someone within his own government is maneuvering to make his rescue attempt fail.

Monday, April 21, 2008

Esai DN Aidit tentang Manifestasi Politik (Manipol) Indonesia


Dipa Nusantara Aidit, lebih dikenal dengan DN Aidit (30 Juli 1923 - 22 November 1965), adalah Ketua Central Comitte Partai Komunis Indonesia (CC-PKI). Ia dilahirkan dengan nama Achmad Aidit di Pulau Bangka, dan dipanggil "Amat" oleh orang-orang yang akrab dengannya. Di masa kecilnya, Aidit mendapatkan pendidikan Belanda. Ayahnya, Abdullah Aidit, ikut serta memimpin gerakan pemuda di Belitung dalam melawan kekuasaan kolonial Belanda, dan setelah merdeka sempat menjadi anggota DPR (Sementara) mewakili rakyat Belitung. Abdullah Aidit juga pernah mendirikan sebuah perkumpulan keagamaan, "Nurul Islam", yang berorientasi kepada Muhammadiyah.

Terlibat dalam politik

Menjelang dewasa, Achmad Aidit mengganti namanya menjadi Dipa Nusantara Aidit. Ia memberitahukan hal ini kepada ayahnya, yang menyetujuinya begitu saja.

Dari Belitung, Aidit berangkat ke Jakarta, dan pada 1940, ia mendirikan perpustakaan "Antara" di daerah Tanah Tinggi, Senen, Jakarta Pusat. Kemudian ia masuk ke Sekolah Dagang ("Handelsschool"). Ia belajar teori politik Marxis melalui Perhimpunan Demokratik Sosial Hindia Belanda (yang belakangan berganti nama menjadi Partai Komunis Indonesia). Dalam aktivitas politiknya itu pula ia mulai berkenalan dengan orang-orang yang kelak memainkan peranan penting dalam politik Indonesia, seperti Adam Malik, Chaerul Saleh, Bung Karno, Bung Hatta, dan Prof. Mohammad Yamin. Menurut sejumlah temannya, Hatta mulanya menaruh banyak harapan dan kepercayaan kepadanya, dan Achmad menjadi anak didik kesayangan Hatta. Namun belakangan mereka berseberangan jalan dari segi ideologi politiknya.

Meskipun ia seorang Marxis dan anggota Komunis Internasional (Komintern), Aidit mengikuti paham Marhaenisme Sukarno dan membiarkan partainya berkembang tanpa menunjukkan keinginan untuk merebut kekuasaan. Sebagai balasan atas dukungannya terhadap Sukarno, ia berhasil menjadi menjadi Sekjen PKI, dan belakangan Ketua. Di bawah kepemimpinannya, PKI menjadi partai komunis ketiga terbesar di dunia, setelah Uni Soviet dan RRT. Ia mengembangkan sejumlah program untuk berbagai kelompok masyarakat, seperti Pemuda Rakyat, Gerwani, Barisan Tani Indonesia (BTI), Lekra, dan lain-lain.

Dalam kampanye Pemilu 1955, Aidit dan PKI berhasil memperoleh banyak pengikut dan dukungan karena program-program mereka untuk rakyat kecil di Indonesia. Dalam dasawarsa berikutnya, PKI menjadi pengimbang dari unsur-unsur konservatif di antara partai-partai politik Islam dan militer.

Peristiwa G-30-S

Pada 1965, PKI menjadi partai politik terbesar di Indonesia, dan menjadi semakin berani dalam memperlihatkan kecenderungannya terhadap kekuasaan. Pada tanggal 30 September 1965 terjadilah tragedi nasional yang dimulai di Jakarta dengan diculik dan dibunuhnya enam orang jenderal dan seorang kapten. Peristiwa ini dikenal sebagai Peristiwa G-30-S.

Pemerintah Orde Baru di bawah Jenderal Soeharto mengeluarkan versi resmi bahwa PKI-lah pelakunya, dan sebagai pimpinan partai, Aidit dituduh sebagai dalang peristiwa ini. Tuduhan ini tidak sempat terbukti, karena Aidit meninggal dalam pengejaran oleh militer ketika ia melarikan diri ke Yogyakarta dan dibunuh di sana oleh militer.

Ada beberapa versi tentang kematian DN Aidit ini. Menurut versi pertama, Aidit tertangkap di Jawa Tengah, lalu dibawa oleh sebuah batalyon Kostrad ke Boyolali. Kemudian ia dibawa ke dekat sebuah sumur dan disuruh berdiri di situ. Kepadanya diberikan waktu setengah jam sebelum "diberesi". Waktu setengah jam itu digunakan Aidit untuk membuat pidato yang berapi-api. Hal ini membangkitkan kemarahan semua tentara yang mendengarnya, sehingga mereka tidak dapat mengendalikan emosi mereka. Akibatnya, mereka kemudian menembaknya hingga mati. versi yang lain mengatakan bahwa ia diledakkan bersama-sama dengan rumah tempat ia ditahan. Betapapun juga, sampai sekarang tidak diketahui di mana jenazahnya dimakamkan.

Download Buku D.N. Aidit - Manifestasi Politik

Sunday, April 20, 2008

Apakah Soeharto bisa diadili karena melakukan pembunuhan masal kejahatan terhadap kemanusiaan by Richard Tanter

Tiga puluh dua tahun lebih rezim Orde Baru ( Soeharto sebagai personifikasi Orde Baru, serta Militer dan Golkar sebagai manifestasi ORBA, dan berbagai kroni di ekonomi maupun di birokrasi) berkuasa. selama itu pula berbagai tidak kejahatan dan pelanggaran HAM dilakukan guna mempertahankan kekuasaan,dan menumpuk harta kekayaan

Beberapa Kasus Pembantaian Rakyat

PERISTIWA KASUS TAHUN KORBAN KETERANGAN

1965-1971

Pembantaian PKI

1965-1971

800.000 jiwa - 3.000.000 jiwa

Kategori kasus politik

Tanjung Priok

Pembantaian Massal

1984

250 jiwa

Kategori kasus politik

27 Juli

Kompetisi Politik

1996

30 jiwa

Kategori kasus politik

Makassar

Penolakan Tarif

1985

4 Mahasiswa

Tuntutan Mahasiswa

Haur Koneng

Tanah

25 orang

Dipolitisir sebagai PKI

DOM Aceh

Pembantaian Massal

1980 - 1990

30.000 jiwa

Dituduh GAM

Waduk Nipah

Pembuatan waduk

47 jiwa

Dituduh PKI

Lampung

Warsidi

25 jiwa

Dituduh GPK

Irian / Papua

Pembantaian Massal

1970 - 1990

8.000 jiwa

Dituduh GPK

Trisakti

Turunkan Harga

1998

4 jiwa

Tuntutan Mahasiswa

Tim Mawar

Penculikan Aktivis

1996 - 1997

22 Orang

Kategori Kasus Politik

Marsinah

Pembunuhan

1 Orang

Tuntutan Buruh

Udin Bernas

Pembunuhan

1 Orang

Pemberitaan Wartawan

Dan Lain-lain

1970 -1990

Sekitar 1.000.000 jiwa

Dituduh PKI/NII/GPK


Berbagai kasus lain sampai saat ini diperkirakan sekitar 200 kasus pembunuhan/pembantaian yang dilakukan oleh Orde Barudengan berbagai motif. total perkiraan korban mencapai tidak kurang dari 1.000.000 jiwa (meninggal). dengan demikian maka selama 32 tahun Orde Baru berkuasa tidak kurang dari 4. 000.000 jiwa rakyat telah menjadi korban. Bahkan sejarawan Ong Hok Giam dalam suatu kesempatan pernah menyampaikan bahwa, jika dibandingkan antara jumlah korban saat kekuasaan kolonial Belanda selama 350 tahun dengan kekuasaan Orde Baru selama 32 tahun maka jumlah korban saat Orde Baru berkuasa jauh lebih besar dibandingkan dengan saat kolonial Belanda menjajah Indonesia.

Melihat pada fakta-fakta seperti yang dipaparkan oleh front nasional tersebut, Richard Tanter Melalui buku yang berjudul: Apakah Soeharto bisa diadili karena melakukan pembunuhan masal kejahatan terhadap kemanusiaan, ini mengorek kembali dosa-dosa Mantan Pemimpin Indonesia selama 32 Tahun tersebut, apakah kejahatan - kejahatannya dapat diadili. Namun persoalannya Soeharto sendiri telah almarhum, lalu bagaimana dengan kejahatan-kejahatanya? untuk lebih jelasnya silahkan anda membaca Ebooknya. Download Here

Download Lentera Merah - Soe Hok Gie

Di Bawah Lentera Merah menarasikan satu periode krusial dalam sejarah Indonesia yaitu ketika benih-benih gagasan kebangsaan mulai disemaikan, antara lain lewat upaya berorganisasi. Melalui sumber data berupa kliping-kliping koran antara tahun 1917-1920an dan wawancara autentik yang berhasil dilakukan terhadap tokoh-tokoh sejarah yang masih tersisa, penulisnya mencoba melacak bagaimana bentuk pergerakan Indonesia, apa gagasan substansialnya, serta upaya macam apa yang dilakukan oleh para tokoh Sarekat Islam Semarang pada kurun waktu 1917an.

Di bawah pimpinan Semaoen, para pendukung Sarekat Islam berasal dari kalangan kaum buruh dan rakyat kecil. Pergantian pengurus itu adalah wujud pertama dari perubahan gerakan Sarekat Islam Semarang dari gerakan kaum menengah menjadi gerakan kaum buruh dan tani. Saat itu menjadi sangat penting artinya bagi sejarah modern Indonesia karena menjadi tonggak kelahiran gerakan kaum Marxis pertama di Indonesia.

Pertimbangan lain mengapa "Di Bawah Lentera Merah" menjadi penting adalah karena buku ini memotret bagaimana gagasan transformasi modernisasi berproses dari wacana tradisional ke wacana modern. Lebih khusus lagi Soe Hok Gie, melalui buku ini, mengajak kita mencermati bagaimana para tokoh tradisional lokal tahun 1917an mencoba menyikapi perubahan pada abad ke-20 yang dalam satu dan lain hal, punya andil menjadikan wajah bangsa Indonesia seperti sekarang ini.

Password to open: justiceseeker

Download Lentera Merah - Soe Hok Gie